PENTING!!!!

artikel-artikel yang diletakkan disini merupakan artikel yang dikumpul untuk rujukan bersama...

Wednesday, December 2, 2009

Khutbah Nabi Mengenai Dajjal

Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: "Rasululah s.a.w telah berkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyentuh masalah Dajjal... . Baginda telah bersabda: "Sesungguhnya tidak ada fitnah (kerosakan) di muka bumi yang paling hebat selain daripada fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT ada mengingatkan kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhir sedangkan kamu adalahumat yang terakhir... . Dajjal itu tidak mustahil datang pada generasi(angkatan) kamu. Seandainya dia datang sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kamu, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap mukmin.. Kalau dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang menjaga dirinya.Dan sebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang mukmin. "Dajjal itu akan datang nanti dari satu tempat antara Syam dan Irak. Dan mempengaruhi manusia dengan begitu cepat sekali. Wahai hamba Allah, wahai manusia, tetaplah kamu. Di sini akan saya terangkan kepada kamu ciri-ciriDajjal, yang belum diterangkan oleh nabi-nabi sebelumku kepada umatnya. "Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagai Tuhan... .. Ingatlah bahawa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelum kamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat, bahkan tidak sama dengan baharu. Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulis KAFIR, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang pandai membaca atau buta huruf. "Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa syurga dan neraka. Nerakanya itu sebenarnya syurganya sedangkan syurganya itu neraka, yakni panas... . Sesiapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah dia meminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surah Al-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim itu menjadi sejuk. "Di antara tipu dayanya itu juga dia berkata kepada orang Arab: "Seandainya aku sanggup menghidupkan ayah atau ibumu yang sudah lama meninggal dunia itu, apakah engkau mengaku aku sebagai Tuhanmu?" Orang Arab itu akan berkata: "Tentu." Maka syaitan pun datang menyamar seperti ayah atau ibunya. Rupanya sama, sifat-sifatnya sama dan suaranya pun sama Ibu-bapanya berkata kepadanya: "Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dialah Tuhanmu." "Di antara tipu dayanya juga dia tipu seseorang, yakni dia bunuh dan dia belah dua. Setelah itu dia katakan kepada orang ramai: "Lihatlah apa yang akan kulakukan terhadap hambaku ini, sekarang akan kuhidupkan dia semula. Dengan izin Allah orang mati tadi hidup semula. Kemudian Laknatullah Alaih itu bertanya: "Siapa Tuhanmu?" Orang yang dia bunuh itu, yang kebetulan orang beriman, menjawab: "Tuhanku adalah Allah, sedangkan engkau adalah musuh Allah." Orang itu bererti lulus dalam ujian Allah dan dia termasuk orang yang paling tinggi darjatnya di syurga." Kata Rasulullah s.a.w lagi: "Di antara tipu dayanya juga dia suruh langit supaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supaya mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh. Dan termasuk ujian yang paling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orang baik dan mereka tidak mengakunya sebagai Tuhan, maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman dan ternakan mereka tidak menjadi "Dajjal itu datang ke tempat orang-orang yang percaya kepadanya dan penduduk kampung itu mengakunya sebagai Tuhan. Disebabkan yang demikian hujan turun di tempat mereka dan tanam-tanaman mereka pun menjadi. "Tidak ada kampung atau daerah di dunia ini yang tidak didatangi Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Kedua-dua kota itu tidak dapat ditembusi oleh Dajjal kerana dikawal oleh Malaikat. Dia hanya berani menginjak pinggiran Makkah dan Madinah. Namun demikian ketika Dajjal datang ke pergunungan di luar kota Madinah, kota Madinah bergoncang seperti gempa bumi.. Ketika itu orang-orang munafik kepanasan seperti cacing dan tidak tahan lagi tinggal di Madinah. Mereka keluar dan pergi bergabung dengan orang-orang yang sudah menjadi pengikut Dajjal. Inilah yang dikatakan hari pembersihan kota Madinah. Dalam hadis yang lain, "di antara fitnah atau tipu daya yang dibawanya itu, Dajjal itu lalu di satu tempat kemudian mereka mendustakannya (tidak beriman kepadanya), maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman mereka tidak menjadi dan hujan pun tidak turun di daerah mereka. Kemudian dia lalu di satu tempat mengajak mereka supaya beriman kepadanya. Mereka pun beriman kepadanya. Maka disebabkan yang demikian itu Dajjal menyuruh langit supaya menurunkan hujannya dan menyuruh bumi supaya menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya. Maka mereka mudah mendapatkan air dan tanam-tanaman mereka subur." Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: "Menjelang turunnya Dajjal ada tahun-tahun tipu daya, iaitu tahun orang-orang pendusta dipercayai orang dan orang jujur tidak dipercayai Orang yang tidak amanah dipercayai dan orang amanah tidak dipercayai."
Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w ada bersabda: "Bumi yang paling baik adalah Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal nanti ia dikawal oleh malaikat. Dajjal tidak sanggup memasuki Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal (di luar Madinah), kota Madinah bergegar tiga kali. Orang-orang munafik yang ada di Madinah (lelaki atau perempuan) bagaikan cacing kepanasan kemudian mereka keluar meninggalkan Madinah. Kaum wanita adalah yang paling banyak lari ketika itu. Itulah yang dikatakan hari pembersihan. Madinah membersihkan kotorannya seperti tukang besi membersihkan karat-karat besi." Diriwayatkan oleh Ahmad, hadis yang diterima dari Aisyah r.a. mengatakan: "Pernah satu hari Rasulullah s.a.w masuk ke rumahku ketika aku sedang menangis. Melihat saya menangis beliau bertanya: "Mengapa menangis?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, engkau telah menceritakan Dajjal, maka saya takut mendengarnya. " Rasulullah s.a.w berkata: "Seandainya Dajjal datang pada waktu aku masih hidup, maka aku akan menjaga kamu dari gangguannya. Kalau dia datang setelah kematianku, maka Tuhan kamu tidak buta dan cacat." Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: "Dajjal muncul pada waktu orang tidak berpegang kepada agama dan jahil tentang agama. Pada zaman Dajjal ada empat puluh hari, yang mana satu hari terasa bagaikan setahun, ada satu hari yang terasa bagaikan sebulan, ada satu hari yang terasa satu minggu, kemudian hari-hari berikutnya seperti hari biasa." Ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tentang hari yang terasa satu tahun itu, apakah boleh kami solat lima waktu juga?" Rasulullah s.a.w menjawab: "Ukurlah berapa jarak solat yang lima waktu itu." Menurut riwayat Dajjal itu nanti akan berkata: "Akulah Tuhan sekalian alam, dan matahari ini berjalan dengan izinku. Apakah kamu bermaksud menahannya?" Katanya sambil ditahannya matahari itu, sehingga satu hari lamanya menjadi satu minggu atau satu bulan. Setelah dia tunjukkan kehebatannya menahan matahari itu, dia berkata kepada manusia: "Sekarang apakah kamu ingin supaya matahari itu berjalan?" Mereka semua menjawab: "Ya, kami ingin." Maka dia tunjukkan lagi kehebatannya dengan menjadikan satu hari begitu cepat berjalan. Menurut riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w bersabda: "Akan keluarlah Dajjal kepada umatku dan dia akan hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh. Saya sendiri pun tidak pasti apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah SWT mengutus Isa bin Maryam yang rupanya seolah-olah Urwah bin Mas'ud dan kemudian membunuh Dajjal itu." Dan menurut ceritanya setelah munculnya Dajjal hampir semua penduduk dunia menjadi kafir, yakni beriman kepada Dajjal. Menurut ceritanya orang yang tetap dalam iman hanya tinggal 12,000 lelaki dan 7,000 kaum wanita.

Sabda Rasulullah : "Sebarkanlah walau seayat."

Cinta Dan Rindu Buat Siapa?

Berbicara tentang rindu dan cinta, tidak dapat lari daripada soal hati dan rasa. Ya, rindu dan cinta letaknya di hati - raja dalam kerajaan diri manusia.

Sabda Rasulullah saw: "Bahawasanya di dalam jasad anak Adam ada seketul daging. Apabila baik daging itu, baiklah seluruh anggotanya. Sebaliknya, jika jahat daging itu, jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah daging itu ialah hati." Riwayat Al-Bukhari

Ini bermakna, rindu dan cinta yang harus bersemi di hati mestilah rindu dan cinta yang ‘baik'. Barulah hati akan menjadi baik, dan seluruh anggota jadi baik. Tapi jika rindu dan cinta itu ‘jahat' maka jahatlah hati. Akibatnya jahatlah seluruh anggota. Kata orang, "berhati-hatilah menjaga hati." Jangan dibiarkan hati itu penuh dengan rindu dan cinta yang salah... akibatnya terlalu buruk.

Umpama menyerahkan kepimpinan negara kepada seorang yang jahat. Kita tentu tahu apa akibatnya bukan? Pemimpin yang jahat akan melakukan kemungkaran, penzaliman, rasuah dan lain-lain kejahatan yang akan menghancurkan sebuah negara. Maka begitulah hati yang jahat, akan menyebabkan seluruh diri kita terarah kepada kejahatan. Jadi, berhati-hatilah menjaga hati dengan berhati-hati memberi cinta dan rindu.
Sebenarnya, pada siapa kita harus cinta? Pada siapa kita mesti rindu? Mungkin ada diantara kita yang tertanya-tanya. Pada kekasih hati? Atau si dia yang sentiasa diingati. Oh, bukan, bukan... Sebenarnya hati setiap manusia secara fitrahnya mencintai dan merindui Allah. Kenapa dikatakan begitu? Dan benarkah begitu? Baiklah, mari kita fikirkan dan renungkan bersama...

Setiap hati inginkan kasih-sayang, keadilan, kekayaan, keindahan dan lain-lain sifat yang mulia, baik dan sempurna. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak inginkan kebaikan, kemuliaan dan kesempurnaan. Ketika dilanda kemiskinan, manusia inginkan kekayaan. Ketika dipinggirkan, kita inginkan kasih-sayang. Ketika dizalimi, kita inginkan keadilan. Baiklah, hakikat itulah bukti yang sebenarnya manusia cinta dan rindukan Tuhan. Justeru, Tuhan sahaja yang memiliki segala-gala yang diingini oleh manusia.

Bukankah Allah memiliki kekayaan yang diingini oleh si miskin? Allah mempunyai kasih sayang yang diidamkan oleh mereka yang terpinggir. Allah Maha Adil dan mampu memberi keadilan yang didambakan oleh yang tertindas. Oleh kerana itulah Tuhan mempunyai nama-nama yang baik (Asmaul Husna), yang menggambarkan keindahan, keadilan, kasih-sayang yang segala sifat kesempurnaan-Nya. Diantara nama-nama Allah itu ialah Al Adil (Yang Maha Adil)? Al Ghani (Maha Kaya)? Ar Rahman (Maha Pengasih)? Dan Ar Rahim (Maha Penyayang)?

Sebutlah... apa sahaja keinginan manusia tentang kebaikan dan kesempurnaan, maka di situ sebenarnya (secara langsung ataupun tidak), manusia sedang merindui dan mencintai Allah. Inilah rasa yang tidak dapat dihapuskan. Selagi manusia punya hati dan perasaan. Rasa bertuhan inilah yang menurut Imam Ghazali, tidak akan dapat dinafikan oleh hati sekalipun kerap dinafikan oleh sifat keegoan manusia.

Inilah benih rindu dan cinta yang telah dibina (‘install') secara fitrah (tabie) dalam diri setiap manusia sejak di alam roh lagi.

Firman Allah: "Bukankah aku ini Tuhanmu? Maka semua (roh manusia) menjawab: ‘Benar, kami (Engkaulah Tuhan kami) menjadi saksi." Al-A'raf : 172

Bahkan, pakar-pakar psikologi manusia juga turut mengakui. Manusia sebenarnya mempunyai keinginan kepada suatu kuasa yang dapat mengatasi segala kekurangan dan kelemahan. Ini memang satu naluri yang semulajadi.

Prof Dr Ramachandran dari California University misalnya, telah menemui ‘Titik Tuhan' - ‘God Spot' dalam sistem otak manusia yang sentiasa mencari makna kehidupan - asal-usulnya, apa maksud kedatangannya ke dunia, dan ke mana akan pergi selepas mati. Dan di hujung semua persoalan itu pasti manusia akan menemui kewujudan Tuhan. Inilah hakikatnya pencarian dan kembara manusia. Inilah asas segala kerinduan dan cinta!

Jadi sedarlah. Apabila hati kita resah dan gelisah inginkan pembelaan, hakikatnya pada ketika itu hati kita sedang merindui yang Maha Adil. Ketika kasih-sayang terputus atau cinta terkandas, kita inginkan sambungan... maka ketika itu sebenarnya kita sedang merindui Ar Rahman dan Ar Rahim (Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang). Ketika bersalah, kita merintih inginkan keampunan dan kemaafan, maka pada saat itu kita sebenarnya merindui Al Ghafar (Pengampun) dan mencintai Al Latif (Maha Lembut).

Semua keinginan itu hanya akan dapat dipenuhi apabila manusia merapatkan dirinya kepada Allah. Allah yang punya segala-galanya itu. Allah sentiasa mahu dan mampu memberi apa yang diinginkan oleh setiap manusia.

Firman Allah: "Dan Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kepada-Ku nescaya Aku akan perkenankan. Sesungguhnya orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan dimasukkan neraka Jahanam dalam keadaan hina." Al-Mukmin : 60

Menerusi nama-nama Allah yang baik inilah seharusnya kita merintih, merayu dan memohon kepada Allah.

Firman Allah: "Allah memiliki Asmaa' ulHusna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama yang baik itu... " Al A'raaf : 180

Manusia hakikatnya tidak punya apa-apa yang diingini oleh manusia lain. Mereka mungkin mahu memberi, tetapi tidak mampu. Ada pula yang mampu memberi tetapi tidak mahu melakukannya. Mungkin hartawan punya harta, tetapi dia tidak punya sifat pemurah. Mugkin ada si miskin punya hati yang pemurah, tetapi tidak memiliki harta yang dipinta oleh si miskin yang lain. Tegasnya, manusia tidak sempurna. Hanya Tuhan yang mempunyai segala apa yang diinginkan oleh seluruh manusia.

Ya, ditegaskan sekali lagi bahawa keinginan manusia kepada satu kuasa yang Maha sempurna ini adalah lanjutan daripada ‘perkenalan' dan ‘percintaan' manusia dengan Allah di Alam Roh lagi (yakni alam sebelum alam dunia ini) . Bukankah sejak di alam roh lagi manusia telah mengetahui dan mengakui akan kewujudan dan keagungan Allah.

Firman Allah: "Bukankah aku ini Tuhanmu? Maka semua (roh manusia) menjawab: ‘Benar, kami (Engkaulah Tuhan kami) menjadi saksi." Al-A'raf : 172

Itulah pertanyaan Allah sekaligus keakuran roh manusia atas pertanyaan itu. Ya, ketika itu semua roh manusia telah mengenali Allah. Bukan itu sahaja, bahkan roh manusia telah mengakui Allah sebagai pemilik, pentadbir dan pengatur alam ini. Inilah yang dimaksudkan cintakan Allah itu adalah fitrah setiap hati. Tetapi soalnya, mampukah cinta itu terus suci dan abadi di dalam hati setiap manusia?

Sungguhpun begitu, perkenalan dan percintaan manusia dengan Allah di alam roh itu kerap tercemar. Sebaik sahaja lahir ke alam dunia, manusia yang dulunya begitu mengenali dan mencintai Allah mula dipisahkan daripada kecintaan dan kerinduannya itu. Yang sejati luntur, yang ilusi muncul. Perkenalan dengan Allah mula dicemari. Manusia mula dipisahkan dari Tuhan. Dan amat malang, kerapkali yang memisahkan anak-anak daripada Allah ialah ibu-bapa anak-anak itu sendiri.

"Setiap anak-anak dilahirkan putih bersih, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani."

Justeru, untuk mengelakkan agar cinta yang suci itu tidak terus dikotori... maka awal-awal lagi apabila seorang bayi dilahirkan, dia terlebih dahulu diazankan dan diiqamatkan. Inilah usaha awal untuk meneruskan perkenalan bayi itu dengan Allah. Tidak cukup sekadar itu sahaja, malah para ibu-bapa juga wajib mengenalkan kepada anak-anak mereka segala sifat kesempurnaan Allah secara mudah tetapi konsisten.

Sabda Rasululah: "Awal-awal agama ialah mengenal Allah."

Alangkah indahnya jika semua itu berjalan lancar. Sejak kecil lagi putik cinta dan rindu Allah itu tumbuh, berbunga dan akhirnya berbuah apabila menjelang dewasa. Malangnya, ramai anak tidak diperkenalkan kepada Allah oleh ibu-bapanya. Sebaliknya, didedahkan kepada unsur-unsur yang melindungi kebesaran Allah. Seringkali, didikan, ajaran, malah lagu, filem, bahan bacaan yang didedahkan kepada anak-anak menggugat perkenalannya dengan Allah.

Akibatnya, kerinduan dan kecintaan yang sedia ada di alam roh itu tidak bersambung, bahkan tercemar. Cinta terputus di tengah jalan. Setiap manusia memiliki hanya satu hati, tidak dua, tidak tiga. Bila cinta Allah dicemari, cinta yang lain datang mengganti. Dua cinta tidak akan berkumpul di dalam satu hati. Hanya satu cinta akan bertakhta di dalam satu jiwa. Bila cinta Allah terpinggir maka terpinggir jugalah segala kebaikan dan kesuciannya. Maka yang tumbuh selepas itu ialah cinta selain Allah seiring suburnya segala kejahatan dan kekejiannya!

Bagaimanakah caranyanya membersihkan semula hati yang telah dicemari dan diracuni? Cukupkah hanya dengan ucapan dan penyesalan? Ya, usaha untuk membersihkan hati adalah usaha yang sukar. Tetapi hanya itulah satu-satunya jalan. Tidak ada jalan mudah untuk mendapat cinta itu semula. Setiap cinta menagih pengorbanan. Begitulah jua cinta Allah.

Sabda Rasulullah: "Iman itu bukanlah angan-angan, bukan pula ucapan, tetapi sesuatu yang menetap di dalam dada, lalu dibuktikan dengan perbuatan."

Perjuangan itu pahit, kerana syurga itu manis. Kecintaan kepada Allah terlalu mahal. Bayangkan untuk mendapat cinta seorang wanita yang rupawan, jejaka yang hartawan, putera yang bangsawan, itupun sudah terlalu sukar, maka apatah lagi untuk mendapat cinta Allah zat yang Maha Agung dan Maha Sempurna itu.

Siapa tidak inginkan kecantikan, harta, nama dan kuasa? Semua itu mahal harganya. Namun semua itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan cinta Allah - sumber segala kekayaan, kecantikan, kuasa dan keagungan. Cintakan gadis yang cantik, kecantikan akan luntur. Cintakan harta yang banyak, harta akan musnah atau ditinggalkan. Cinta pada kuasa, suatu hari pasti dijatuhkan atau berakhir dengan kematian.

Namun cinta Allah, adalah cinta yang hakiki, sejati dan abadi. Keindahan Pencipta (Khalik) tidak akan dapat ditandingi oleh ciptaannya (makhluk). Keagungan, kekuasaan dan kekayaan Allah akan kekal abadi selamanya. Bila kekasih di kalangan manusia sudah berpaling, maka sedarilah bahawa Allah tetap melihat dengan pandangan rahmat-Nya. Apabila kita mencintai Allah, kita hakikatnya akan memiliki segala-galanya. Inilah cinta yang tidak akan terpisah oleh kejauhan, kematian dan kemiskinan. Sebaliknya bila kita kehilangan cinta Allah, kita sebenarnya telah kehilangan segala-galanya.

Sekiranya kita telah disukai oleh seorang raja, maka anda akan turut disukai oleh pelayan-pelayannya, dikurniakan pangkat, dijamin makan-minum, bebas di bergerak di istananya dan macam-macam lagi kurniaannya. Maka begitulah sekiranya seorang yang mencintai Allah. Para malaikat akan menjaganya. Orang-orang soleh turut mendoakannya. Rezkinya akan dipenuhi dengan segala kecukupan dan keberkatan. Apa nak dihairankan? Bukankah ‘talian hayat' kekasih-kekasih Allah ini sentiasa terhubung kepada satu kuasa yang tiada tolok bandingnya!

Hadis Qudsi: Allah swt berfirman: "Aku menurut sangkaan hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (Sahih Bukhari)

Namun begitu, seperti yang ditegaskan sebelumnya, cinta Allah yang begitu agung dan suci, pasti ada tagihannya. Jalan mencintai Allah tidak semudah yang disangkakan. Sudah adat, setiap yang mahal, sukar mendapatkannya. Bandingannya seperti pasir dengan permata. Pasir, murah harganya... kerana ia boleh dicari di merata-rata. Sebaliknya, permata begitu tinggi nilainya, maka perlu menyelam ke dasar lautan untuk mendapatkannya.

Tidak ada kesukaran, tidak ada ganjaran. Begitulah jua dengan cinta Allah yang hakikatnya jauh lebih tinggi nilainya daripada intan atau permata. Justeru, pasti ada ‘harga' atau mahar yang mahal terpaksa dibayar untuk mendapatkannya.

Untuk mendapat cinta Allah kita perlu berkorban. Cinta dan pengorbanan sudah sinonim dan tidak sekali-kali dapat dipisahkan. Kita perlu membayar harga cinta itu dengan segala yang ada pada kita - masa, tenaga, harta bahkan nyawa. Namun apa yang lebih penting bukanlah masa, tenaga atau sesuatu yang berbentuk lahiriah. Itu cuma lambang sahaja. Yang lebih penting ialah hati di sebalik pengorbanan itu.

Lihat sahaja hati yang dimiliki oleh Habil berbanding Qabil dalam pengorbanannya untuk Allah. Hati yang bersih akan mengorbankan sesuatu yang terbaik untuk Allah. Lalu kerana ketulusan hatinya, Habil mengorbankan hasil ternakannya yang terbaik untuk Allah. Manakala Qabil pula menyerahkan hasil pertanian yang kurang bermutu untuk membuktikan cintanya yang tidak seberapa. Lalu ini menjadi sebab, Allah menolak pengorbanan Qabil, sebaliknya menerima pengorbanan Habil.

Kita bagaimana? Sudahkah kita mengorbankan segala yang terbaik hasil dorongan hati yang baik? Ke manakah kita luangkan masa, usia, tenaga, harta kita yang terbaik? Untuk kebaikan yang disuruh oleh Allah atau ke arah kejahatan yang dilarang-Nya? Tepuk dada tanyalah hati, apakah ada cinta yang mendalam di dalam hati itu?

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya ALLAH tidak melihat gambaran lahir amalan kamu dan rupa kamu tapi ALLAH melihat hati kamu". Riwayat Muslim

Pengabdian kita kepada Tuhan adalah bukti cinta kepada-nya. Pepatah Arab mengatakan:

"Setiap orang menjadi hamba kepada apa yang dicintanya."

Maksudnya, pengabdian adalah umpama ‘hadiah' yang kita ingin berikan kepada Allah sebagai bukti cinta kita. Ia mesti didorong oleh hati yang bersih. Tidak dicemari riyak dan syirik. Maha suci Allah daripada dipersekutukan oleh hamba-Nya dengan sesuatu. Jika amal itu dicemari oleh kekotoran hati - riyak (syirik kecil), sifat menunjuk-nunjuk, syirik besar - mempersekutukan Allah) maka amalan itu tidak bernilai walaupun ia seluas lautan atau setinggi gunung.

Sebaliknya, jika hati seseorang itu ikhlas, amalnya yang sekecil manapun akan menjadi besar dan bernilai di sisi Allah. Insya-Allah, ‘hadiah' itu akan diterima oleh Allah.



Firman Allah: "Barang siapa yang ingin menemui Tuhannya, hendaklah dia beramal soleh dan tidak mempersekutukan Allah dengan amalannya itu." Surah Al-Kahfi: 110

Hakikatnya Allah Maha Kaya dan DIA tidak mengkehendaki apa jua manfaat daripada hamba-hamba-Nya sekalipun amalan dan kebaikan yang mereka lakukan. Maha Suci Allah daripada bersifat miskin - punya keinginan untuk mendapat manfaat daripada para hamba-Nya. Amalan dan kebaikan yang dilakukan oleh manusia bukan untuk Allah tetapi manfaat itu kembali kepada manusia semula.

Bila kita solat misalnya, solat itu manfaatnya akan dirasai oleh kita juga. Firman Allah:

"Sesungguhnya sembahyang itu akan mencegah daripada kemungkaran dan kejahatan." Surah Al-Ankabut: 45

Ya, solat akan menyebabkan kita terhalang daripada melakukan kejahatan dan kemungkaran. Itulah manfaat solat. Itu amat berguna kepada diri manusia. Manusia yang baik akan dikasihi oleh manusia lain. Hidup yang selamat daripada kemungkaran dan kejahatan, adalah hidup yang tenang, aman dan bahagia.

Begitu juga apabila Allah menyuruh kita melakukan sesuatu atau melarang kita melakukannya, itu adalah kerana Allah ingin berikan kebaikan kepada kita bukan untuk-Nya. Inilah rasionalnya di sebalik pengharaman riba, arak, zina, pergaulan bebas, pendedahan aurat dan lain-lain. Susah atau senangnya untuk manusia bukan untuk Allah. Tegasnya, jika patuh, manfaatnya untuk manusia. Jika engkar, mudaratnya juga untuk manusia.

Namun, walau sesukar mana sekalipun kita berusaha menghampirkan diri kepada Allah, kita akan merasa mudah jika Allah sendiri memberi bantuan-Nya. Jika Allah sudah permudahkan, walaupun seberat mana sekalipun, kita akan mampu mengatasinya. Allah akan permudahkan kita dengan mengurniakan sifat sabar, istiqamah, syukur dan redha kepada-Nya. Lihatlah sejarah perjuangan para Rasul dan nabi serta sahabat-sahabat Rasulullah... kita akan tertanya-tanya mengapa mereka sanggup menderita, tersiksa bahkan terkorban nyawa untuk mendapat cinta Allah?

Renungilah betapa Sumayyah rela mengorbankan nyawanya. Begitu juga Mus'ab bin Umair, Hanzalah, Jaafar bin Abi Talib, Abdullah ibnu Rawahah... mereka semuanya telah syahid di jalan Allah. Apakah itu susah buat mereka? Mereka sangat menghayati apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW:



"Jagalah Allah, nescaya engkau akan temukan DIA di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika dalam keadaan lapang nescaya DIA akan mengenalmu dalam keadaan sempit. Ketahuilah segala sesuatu yang luput daripadamu tidak akan menimpamu dan sesuatu yang menimpamu tidak akan dapat luput darimu. Ketahuilah bahawa kemenangan itu menyertai kesabaran, kelapangan itu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesukaran." Riwayat Ahmad, Hakim, Thabrani, Ibnu Sunni, Ajiri dan Dhiya'agal

Mereka sesungguhnya merasa bahagia dalam mengharungi penderitaan, merasa mulia dengan mengorbankan nyawa. Ini semua mudah buat mereka kerana Allah telah melembutkan hati-hati mereka. Benarlah bila hendak seribu daya, bila mahu sejuta cara. Kemahuan dan keinginan mereka itu hakikat didorong oleh Allah. Untuk itu, mintalah simpati dari Allah untuk memudahkan kita mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagaimana memohon simpati daripada Allah? Tidak lain dengan cara berdoa kepada-Nya. Doa itu adalah senjata orang mukmin. Maksudnya, doa ialah alat atau ubat yang paling mustajab dan mujarab untuk mendapat hati yang lunak dengan Allah. Namun harus diingat, doa bukanlah usaha ‘pemberitahuan' kehendak-kehendak kita kepada Allah ( kerana tanpa diberitahupun Allah sedia mengetahui), namun doa hakikatnya usaha ‘penyerahan' diri kita kepada-Nya.

Orang yang berdoa ialah orang yang mengakui segala sifat kehambaannya di hadapan kekuasaan Allah. Apakah sifat-sifat kehambaan itu? Antaranya, rasa lemah, hina, jahil, miskin, berdosa, hodoh dan segala sifat-sifat kekurangan. Berdoa ertinya kita menyerah pasrah kepada Allah. Kita nafikan segala kelebihan diri. Yang kita akui hanya sifat keagungan dan kebesaran Allah. Lalu kita inginkan hanya bantuan-Nya. Kita tagihkan simpati, kasihan dan keampunan-Nya sahaja.

Hanya dengan mengaku lemah di hadapan Allah kita akan memperolehi kekuatan. Hanya dengan mengaku miskin di hadapan Allah kita akan dikayaka-Nya. Tegasnya, hanya dengan merasai segala sifat kehambaan barulah kita akan mendapat kekuatan, kemuliaan dan kelebihan dalam mengharungi hidup yang penuh cabaran ini.

Bila Allah telah hadiahkan kasih dan rindu-Nya kepada kita, kita akan merasa kebahagiaan dan ketenangan yang tiada taranya lagi. Dalam apa jua keadaan kita akan mendapat ketenagan. Susah, kita sabar. Senang, kita syukur. Kita bersalah, mudah meminta maaf. Jika orang meminta maaf, kita sedia dan rela pula memaafkan. Alangkah bahagianya punya keikhlasan hati yang sebegini?

Itulah hakikatnya syukur - pada lidah, hati dan amalan. Syukur dengan lidah, mengucapkan tahmid (pujian) kepada Allah. Syukur dengan hati, merasakan segala nikmat hakikatnya daripada Allah bukan daripada usaha atau ikhktiar diri kita. Tadbir kita tidak punya apa-apa kesan berbanding takdir Allah. Dan akhirnya syukur dengan tindakan, yakni menggunakan segala nikmat daripada Allah selaras dengan tujuan Allah mengurniakan nikmat itu.

Jika Allah berikan harta, kita gunakan ke arah kebaikan dan kebajikan. Jika diberi ilmu, kita mengajar orang lain. Diberi kuasa, kita memimpin dengan adil dan saksama! Syukur itulah tujuan utama kita dikurniakan nikmat. Ertinya, kita kembalikan nikmat kepada yang Empunya nikmat (Allah).

taken from :- http://virtualfriends.net

My Fav. Site

Sabda Rasullullah saw :

Sampaikanlah pesanku biarpun sepotong ayat..